Berikut saya lampirkan resume Andradogi dan Pedadogi sebagai salah satu materi Psikologi Pendidikan untuk memenuhi tugas mata kuliah Psikologi Pendidikan.

Andradogi dan Pedagogi


        I.            Pengertian

                Andradogi adalah teori belajar yang dikembangkan untuk kebutuhan khusus orang dewasa. Andradogi berlaku bagi segala bentuk pembelajaran orang dewasa dan telah digunakan secara luas dalam rancangan program peatihan organisasi, khususnya untuk keterampilan lunak (soft skill). Dengan demikian aplikasi andradogi berlaku di ruang-ruang kursus, pelatihan, pembekalan, dan lain-lain.  Knowles (1984) memberikan contoh penerapan prinsip-prinsip andradogi dengan desain pelatihan berikut ini :

a.       Ada kebutuhan untuk menjelaskan mengapa hal-hal tertentu yang diajarkan.

b.      Pengajaran harus berorientasi pada tugas yang bermakna, bukan menghafal. Kegiatan belajar harus berada dalam konteks tugas umum yang akan dilakukan.

c.       Pengajaran harus mempertimbangkan berbagai latar belakang yang berbeda dari peserta didik, bahan belajar dan kegiatan harus memungkinan berbagai tingkat atau jenis pengalaman sebelumnya.

d.      Pengajaran memungkinkan pembelajar menemukan hal-hal untuk diri mereka sendiri, memberikan bimbingan dan bantuan ketika ada kesalahan yang dibuat.

                Asumsi-asumsi Knowles bagi pembelajaran orang dewasa :

a.       Kebutuhan untuk tahu. Peserta didik perlu mengetahui mengapa mereka harus mempelajari sesuatu sebelum melakukan untuk mempelajarinya.

b.      Konsep diri. Peserta didik harus bertanggung jawab atas keputusan mereka sendiri dan harus diperlakukan sebagai diri pribadi yang mampu menentukan arah dirinya.

c.       Peran pengalaman belajar. Peserta didik memiliki berbagai pengalamn hidup yang erupakan sumber baginya untuk belajar. Namun, pengalaman ini diilhami dengan bias dan prasangka.

d.      Kesiapan untuk belajar. Peserta didik siap untuk belajar hal-hal yang perlu mereka ketahui agar dapar mengatasinya secara efektif.

e.      Orientasi belajar. Peserta didik termotivasi untuk belajar apabila mereka merasa bahwa materi yang dipelajari akan membantu mereka untuk menjalankan tugas-tugas yang dihadapinya.

                                Pedagogi adalah orang dewasa yang mandiri dan mengharapkan untuk mengambil tanggung jawab atas keputusannya sendiri. Program pembelajaran orang dewasa harus mangakomodasi aspek fundamental, yang berbeda dengan pembelajaran bagi anak-anak.



      II.            Perbedaan Andradogi dan Pedagogi

                Malcolms S. Knowles (1970) membedakan kedua disiplin ilmu andradogi dan pedagogi sebagai berikut :

No
Andradogi
Pedagogi
1
Pembelajar disebut “peserta didik” atau “warga belajar”
Pembelajar disebut “siswa” atau “anak didik”
2
Gaya belajar independen
Gaya belajar dependen
3
Tujuan fleksibel
Tujuan ditentukan sebelumnya
4
Diasumsikan bahwa peserta didik memiliki pengalaman untuk berkontribusi
Diasumsikan bahwa siswa tidak berpengalaman atau kurang informasi
5
Menggunakan metode pelatihan aktif
Metode pelatihan pasif, seperti metode kuliah/ceramah
6
Pembelajar mempengaruhi waktu dan kecepatan
Guru mengontrol waktu dan kecepatan.
7
Keterlibatan atau kontribusi peserta sangat penting
Peserta berkontribusi sedikit pengalaman
8
Belajar terpusat pada masalah kehidupan nyata
Belajar berpusat pada isi atau pengetahuan teoritis
9
Peserta diangap sebagai seumberdaya utama untuk ide dan contoh
Guru sebagai sumber utama yang memberikan ide-ide contoh.



                Malcom S. Knowles secara lebih rinci menyajikan asumsi dan proses pedadogi untuk dibedakan dengan andradogi. Asumsi dan proses dimaksud disajikan berikut ini :


Asumsi Pedadogi
Asumsi Andradogi
1.       Konsep diri
Ketergantungan.
Peningkatan arah-diri atau kemandirian.
2.       Pengalaman
Berharga kecil.
Pelajar merupakan sumber daya yang kaya untuk belajar.
3.       Kesiapan
Tugas perkembangan : tekanan sosial.
Tugas perkembangan : peran sosial.
4.       Perspektif waktu
Aplikasi ditunda.
Kecepatan aplikasi.
5.       Orientasi untuk belajar
Berpusat pada substansi mata pelajaran.
Berpusat pada masalah.
6.       Iklim belajar
Berorientasi otoritas, resmi, dan kompetitif.
Mutualitas/pemberian pertolongan, rasa hormat, kolaborasi, dan informal.
7.       Perencanaan
Oleh guru.
Reksa (mutual) diagnosis diri.
8.       Perumusan tujuan
Oleh guru.
Reksa negoisasi.
9.       Desain
Logika materi pelajaran, unit konten.
Diurutkan dalam hal kesiapan unit masalah.
10.   Kegiatan
Teknik pelayanan.
Teknik pengalaman (penyelidikan).
11.   Evaluasi
Oleh guru.
Reksa diagnosis-kebutuhan dan reksa program pengukuran.



Disini saya akan memberikan testimoni saya terhadap mata kuliah Psikologi Pendidikan.
Menurut saya mata kuliah Psikologi Pendidikan merupakan salah satu mata kuliah yang cukup menarik untuk saya. Mata kuliah psikologi pendidikan juga mempelajari perkembangan, intelegensi, teknologi pendidikan dan lainnya. Selain itu tiap dosen memiliki model pengajaran yang berbeda namun memiliki tujuan yang sama. Dan menurut saya, metode yang berbeda-beda tersebut cukup efektif untuk diterapkan. Yang paling berkesan menurut saya adalah ketika salah seorang dosen memberikan reward berupa cokelat bagi mahasiswa yang mau mengemukakan pendapat dan ceritanya.



TUGAS PENDIDIKAN : EVALUASI HASIL OBESERVASI

A.    IDENTITAS SEKOLAH

NAMA SEKOLAH               :  SDN Percobaan Medan

ALAMAT  SEKOLAH         :  jl. Sei petani no 19 Medan, Indonesia

UANG SEKOLAH                : DANA BOS

KONSEP BELAJAR             : K2013



B.     URAIAN AKTIVITAS OBSERVASI

Hari pelaksanaan         : kamis, 23 Maret 2017

Waktu pelaksanaan     : 08:00-10:00 WIB

Pembagian Tugas        : setiap anggota mengamati proses belajar mengajar di dalam kelas. 

                                     

Narasumber                 : Hj.paujia rosmini mm (Kepala Sekolah)

 Binaria Naibaho (Guru bid studi )

 Beberapa pengajar ( guru)

                                   



C.     OBJEK OBSERVASI

Objek yang di observasi dalam tugas ini adalah siswa – siswi  dari kelas Kelas 1 , Kelas 5 unggulan , Kelas 6 ,Kelas  4  pada sekolah dasar negri percobaan Medan



D.    LAPORAN OBSERVASI

1.      Landasan

a.       Teori Teori Operant Conditioning  ( Teori Edward Thorndike )

Operant conditioning adalah pembelajaran di mana konsekuensi dari perilaku menyebabkan perubahan dalam probabilitas kejadian.

·         Positive Reinforcement

Positive Reinforcement adalah suatu rangsangan yang diberikan untuk memperkuat kemungkinan munculnya suatu perilaku yang baik sehingga respons menjadi meningkat  karena diikuti dengan stimulus yang mendukung. . Konsekuensi yang dihasilkan dalam positive reinforcement adalah positif

·         Negative Reinforcement.

Negative Reinforcement adalah peningkatan suatu frekuensi terhadap suatu perilaku yang positif karena hilangnya sebuah rangsangan yang merugikan (tidak menyenangkan).

·          Punishment

Punishment merupakan konsekuensi negatif yang mengarah pada pengurangan frekuensi perilaku yang menghasilkannya. Punishment berbeda dengan negative reinforcement. Penguatan negatif lebih bertujuan untuk meningkatkan probabilitas dari sebuah perilaku, sedangkan hukuman lebih bertujuan untuk menurunkan probabilitas terjadinya perilaku.



b.      Teori information-processing.

Tiga tahapan memori yaitu pengodean, penyimpanan, dan penarikan informasi kembali.

Teori pemroresan informasi terdiri dari tiga tahapan, yaitu :

Ø  Sensory register : adalah tahapan menangkap informasi melalui penginderaan atau proses sensoris tubuh

Ø  Short Term Memory : adalah informasi yang diperoleh melalui proses sensoris disimpan sebagai memori STM dengan memperhatikan detil tertentu dari informasi.

Ø  Long Therm Memory : adalah informasi yang tersimpan dalam jangka waktu yang lama. Ingatan pada LTM memerlukan pemindaian secara seksama agar mendapat ingatan yang seutuhnya serta menyeluruh.





2.      Metode Observasi

Riset deskriptif. Riset ini bertujuan mengamati perilaku. Misalnya seorang ahli psikology pendidikan mengamati sejauh mana anak anak bersifat agresif di dalam kelas, atau mewawancarai guru tentang sikap mereka terhadap jenis strategi tertentu.

Untuk memenuhi tugas observasi ini, kami menggunakan metode seperti yang diatas karena kami hanya mengamati bagaimana proses belajar mengajar yang terjadi antara guru dan siswa. Kami juga mengamati bagaimana interaksi yang terjadi saat proses belajar berlangsung.



3.      Manajemen kelas

Kelas yang di observasi terdiri seitar 36 siswa pada tiap kelas. Dimana jumlah siswa yang semakin banyak bisa menurunkan daya konsentrasi dan semnagta belajar serta motivasi yang di berikan. Serta terjadi ketidak efektifan proses belajar. Ruang kelas menggunakan penataan pengelompokan dimana terdapat meja yang di satukan dan dalam setiap meja terdiri atas 5 sampai 6 siswa. Proses pengelompokan ini membuat siswa belajar berinteraksi dan bekerja secara tim dalam satu meja.







E.     RANGKUMAN HASIL OBSERVASI



Penerapan teori teori yang terjadi paa proses beljar di kelas observasi memberikan manfaat dimana murid lebih memahami apa yang di sampaikan guru dan  mudah untuk bagaimana mereka mengerjakan soal , tugas yang di berikan dan juga merupakan latihan untuk belajar terhadap materi yang telah di berikan

Sekolah menggunakan sistem k2013 dimana murid di tuntut aktif di dalam kelas . kelas juga di setting sedemikian rupa agar murid dapat berinteraksi dan berkelompok . kami melihat di beberapa kelas di tampilkan hasil karna anak anak. Mulai dari kreatifitas dengan menggambar atau membuat maket. Ada juga yang beberapa tanaman mini hasil karya anak anak . proses belajar terjadi teratur karna di bentuk seperti kelompok kelompok maka pusat perhatian siswa tidak tertuju dalam satu posisi namun siswa dapat mengeksplore ke berbagai sudut.

Siswa juga mempunyai salam pkk yang mempunya nilai luruh sehingga dapat memicu penerapan karena di ucapkan setiap hari. Sebelum belajar mereka melakukan salam ppk dan berdoa sesuai agama masing masing.

Sistem belajar seperti ini di rancang untuk pembentukan kharakter moral siswa  dan membuat siswa mampu berkerja sama dengan teman temannya .



F.      TESTIMONI TENTANG PERENCANAAN DAN PROSES OBSERVASI

Ada banyak kendala saat melakukan perencanaan untuk observasi, dimana untuk menemukan sekolah dan menyatukan waktu satu tim untuk membahas tugas kelompok ini.

Ini adalah testimoni dari tiap anggota dalam kelompok mengenai proses observasi ini.



             Astri Youlanda Nainggolan    16-093

Kami mengadakan observasi pada Kamis,30 Maret 2017 di SDN Pembangunan di jalan Seipetani Medan. kami melalukan observasi dan mengamati pola tingkah laku anak SD yang kebetulan saya sendiri ditugaskan untuk mengobservasi kelas 1 bersama rekan saya Fourgareth. Kita tahu bahwa anak yang duduk di bangku kelas 1 merupakan lanjutan dari TK, artinya mereka masih terkesan ingin bermain seperti di TK. tidak heran ketika ruang kelas di desain mirip seperti ruang TK namun tidak sedetail ruang TK. penataan bangku di ruang kelas 1 ini pun dibuat perkelompok. ketika mewawancarai guru wali nya ia menjawab penataan bangku perkelompok dibuat untuk mempermudah guru mengamati. saya pun mendatangi setiap kelompok yang ada satu per satu, kemudian mengajak mereka berkomunikasi sambil mengecek tugas yang sedang diberikan oleh guru yang sedang mengajar. Mereka sangat antusias ketika saya menguji mereka atas tugas yang telah diberikan kepada mereka. mereka sangan aktif,ceria,dan menyenangkan. bahkan ada beberapa yang mengajak saya untuk sekedar melihat mereka menggambar. saya kemudian mengajak mereka berfoto untuk mengabadikan momen bersama mereka, mereka tidak canggung sama sekali, seperti kami sudah mengenal lama. mereka cukup terbuka dengan orang baru disekitar mereka. saya berpendapat bahwa semua anak itu menyenangkan ketika kita memberikan kasih sayang dan perhatian, mereka akan jauh menyayangi kita dan percaya kepada kita.



Kartika walupi 16-106

Kesulitan pertama bagi saya ialah berkomitmen penuh kepada tim observasi. Tim sangat pasif dalam memberikan inisiatif ide dan saran.  Cendrung menunggu keputusan dari orang lain. Lalu mencari sekolah dan meminta izin kepada pihak sekolah. Proses membuat surat izin hingga pada hari h . tim terlambat saat akan melakukan proses observasi. Namun observasi di lakukan tepat waktu sesuai perjanjian dengan pihak sekolah. Dalam observasi tidak terlampau sulit karena kami hanya melihat bagaimana proses yang terjad. Kendalanya adalah pada saat menuangkan apa yang telah di lihat dan di pikir ke dalam bentuk sebuah laporan. Namun, bagi saya observasi ini memberikan saa banyak pandangan baru yang tentunya akan membuat saya menjadi individu yang jauh lebih baik lagi. Terima Kasih.



Fourgareth  16-114

 Saat pengambilan data didalam kelas sedikit sulit untuk dilakukan karena anak-anak yang berada didalam kelas cenderung fokus kepada aktivitas yang sedang dilakukannya contohnya adalah bermain bersama temannya. Selain itu, ada juga anak-anak yang pendiam sehingga sulit untuk memulai pembicaraan.



Yuni adeline

Dari Observasi tersebut saya dapat lebih memahami bagaimana manajemen kelas yang baik. apalagi saat kami kesana, kami di sambut dengan baik oleh guru-guru maupun pengurus sekolah, kami mendapat antusiasme yang besar dari sebagian besar anak-anak di SD tsb. 



kami memasuki beberapa kelas yang berbeda, seperti kelas plus/ kelas akselerasi, kelas 6, kelas 5 dan kelas 1 di SD tsb. hasil dari observasi yang kami lakukan juga beragam dari berbagai kelas, seperti contohnya pada anak kelas 1 murid-muridnya lebih ekspresif, mereka lebih antusias dan seakan-anak penasaran apa yang kami lakukan di kelas mereka.



dan mengenai Manejemen Kelas di SD tsb juga beragam. Di kelas 6 dan 5 guru lebih banyak memberi murid-muridnya tugas, guru menjelaskan pelajaran pada awal masuk dan setelah selesai menjelaskan guru akan memberi murid-muridnya Tugas, dan di kelas 1 guru lebih memberi kebebasan murid untuk berkreasi, dapat di lihat dari banyaknya karya-karya tangan murid di sekitar kelas. 



Anak-anak di SD Persiapan Pembangunan Sei Petani ini juga memiliki antusiasme yang berbeda terhadap pengajaran guru, di kelas 6 dan 5, tampak sebagian besar serius mengikuti pelajaran dan penjelasan guru namun ada beberapa yang masih kurang memperhatikan guru mengajar, perhatian mereka juga sering kali kurang fokus karna ingin cepat keluar dari kelas, dan anak kelas 1 nya juga memiliki antusias yang berbeda, mereka tampak antusias ketika guru menerangkan sesuatu seperti mereka penasaran apa dan bagaimana hal itu terjadi. 



dari Observasi ini saya mendapatkan pengalaman sendiri mengenai bagaimana anak-anak ini bersikap, serta bagaimana memanajemen kelas yang baik, bagaimana ekspresi si anak saat di berikan stimulasi-stimulasi ataupun cara pengajaran yang berbeda. 





Dengan semua kendala dalam proses observasi ini dari perencana – pelaksanaan- hingga peyusunan laporan menjadi suatu proses belajar yang tentunya akan sangat bermanfaat bagi kami kedepannya. Dan tentunya kami tidak lupa berterima kasih kepada semua pihak yang telah membantu proses observasi ini dari perencanaan hingga selesai.



Ricky ripaldi

Menurut saya observasi dalam pemenuhan tugas mata kuliah Psikologi Pendidikan ini sangat bagus, seru dan menarik. Mahasiwa dapat secara langsung mengamati apa yang telah dipelajarinya di kelas langsung ke lapangan. Saya merasa senang bisa langsung mengamati perilaku anak SD, pola menagemen kelas, metode belajar yang diterapkan, dan interaksi antara murid dan guru, yang sebelumnya saya hanya mengetahui hal tersebut sebatas teori saja. Namun setelah observasi saya jadi lebih paham akan hal-hal tersebut



Kevin hyzkia


Menurut saya observasi dengan tema “management kelas” untuk  pemenuhan tugas mata kuliah Psikologi Pendidikan ini sangat bagus, seru dan menarik. Mahasiwa dapat mengetahui bagaimana cara guru me-manage/menangani kelas agar kelas menjadi kondusif.. Saya merasa senang bisa langsung mengamati perilaku anak SD, pola managemen kelas, metode belajar yang diterapkan, dan interaksi antara murid dan guru, yang sebelumnya saya hanya mengetahui hal tersebut sebatas teori saja.


G.    DOKUMENTASI








Belajar merupakan pengaruh yang relatif permanen atas perilaku, pengetahuan, dan keterampilan berpikir yang diperoleh melalui pengalaman. Pendekatan behavioral dan kognitif merupakan pendekatan untuk belajar.

1. Pendekatan Behavioral

     Behaviorisme adalah pandangan yang menyatakan bahwa perilaku harus dijelaskan melalui pengalaman yang dapat diamati, bukan dengan proses mental. Proses mental didefinisikan oleh psikolog sebagai pikiran, perasaan, dan motif yang kita alami namun tidak bisa dilihat oleh orang lain. Pengkondisian klasik (classical conditioning) dan pengkondisian operan merupakan dua pandangan behavioral yang menekankan bahwa dua kejadian saling terkait atau disebut juga dengan pembelajaran asosiatif (associative learning).  

a. Pengkondisian Klasik (classical conditioning)

     Pengkondisian klasik adalah suatu bentuk belajar dimana stimulus netral (CS) dipasangkan dengan UCS untuk menghasilkan CR yang identik dengan UCR. Ivan Pavlov, fisiologis Rusia yang menyusun konsep pengkondisian klasik ini dengan menggunakan anjing yang saat dihadapkan dengan makanan akan mengeluarkan air liur sebagai respon. Terdapat dua hal penting yang berkaitan dengan pembentukan asosiasi yaitu : 1. Frekuensi

            2. Timing

Ada dua tipe stimuli dan dua tipe respons dalam pengkondisian klasik Pavlov:

  • Unconditioned stimulus (UCS) : stimulus yang secara otomatis atau alamiah yang menghasilkan respon tanpa ada pembelajaran terlebih dahulu. Pada eksperimen Pavlov, makanan adalah UCS.
  • Unconditioned response (UCR)  respon yang tidak dipelajari yang secara otomatis dihasilkan oleh UCS. Dalam eksperimen Pavlov, air liur anjing yang merespon makanan adalah UCR.
  • Conditioned stimulus (CS)  stimulus yang sebelumnya netral akhirnya menghasilkan conditioned response setelah diasosiasikan dengan UCS. Pada eksperimen pavlov, bel merupakan CS.
  • Conditioned response (CR)  respon yang dipelajari, yakni respons terhadap stimulus yang terkondisikan yang muncul setelah terjadi pasangan UCS-CS.

        Pengkondisian klasik dapat berupa pengalaman negatif dan positif dalam diri anak di kelas. Pengkondisian klasik dapat terjadi dalam kecemasan menghadapi ujian. Misalnya anak gagal dalam ujian dan ditegur, dan ini menghasilkan kegelisahan; setelah itu, anak mengasosiasikan ujian dengan kecemasan, sehingga menjadi CS untuk kecemasan.



      Generalisasi dalam pengkondisian klasik adalah tendensi dari stimulus baru yang sama dengan CS yang asli untuk menghasilkan respons yang sama. Diskriminasi terjadi ketika organisme merespons stimuli tertentu tetapi tidak merespons stimuli lainnya. Pelenyapan (extinction) adalah pelemahan CR karena tidak adanya UCS. Desensitisasi sistematis adalah sebuah metode yang didasarkan pada pengkondisian klasik yang dimaksudkan untuk mengurangi kecemasan dengan cara membuat individu mengasosiasikan relaksasi dengan visualisasi situasi yang menimbulkan kecemasan. Hasil belajar classical conditioning dapat dihilangkan dengan teknik counterconditioning atau menghilangkan UCS nya.

b. Pengkondisian Operan (operant conditioning)

      Pengkondisian operan ialah sebentuk pembelajaran dimana konsekuensi dari perilaku akan menyebabkan perubahan dalam probabilitas perilaku itu akan diulangi. Tokoh utama dari pengkondisian operan ini adalah B.F. Skinner, yang pandangannya didasarkan pada pandangan E.L. Thorndike. Dalam pengkondisian ini terdapat penguatan (reinforcement) dan hukuman (punishment).

    Penguatan (reinforcement) adalah konsekuensi yang meningkatkan probabilitas bahwa suatu perilaku akan terjadi. Penguatan terbagi menjadi dua, yaitu:

  • Penguatan positif : penguatan berdasarkan prinsip bahwa frekuensi respons meningkat karena diikuti dengan stimulus yang mendukung (rewarding). 
  • Penguatan negatif : penguatan berdasarkan prinsip bahwa frekuensi respons meningkat karena diikuti dengan penghilangan stimulus yang merugikan (tidak menyenangkan).

   Hukuman (punishment) adalah konsekuensi yang menurunkan probabilitas terjadinya suatu perilaku.

     Jadwal penguatan merupakan pola yang berbeda dalam hal frekuensi dan waktu pemberian penguat yang mengikuti perilaku yang diinginkan. Terdapat 4 jadwal dalam penguatan, yaitu:

  • Fixed ratio : suatu jadwal di mana penguat diberikan hanya setelah sejumlah respons dimunculkan. Contohnya anak akan diberi cokelat setiap mendapatkan tiga kali nilai A.
  • Variable ratio : jadwal di mana penguatan terjadi setelah beberapa kali respons muncul, yang mana jumlah respons yang diperlukan beragam. Contohnya anak mendapat nilai A dan dia tidak tahu kapan akan mendapat cokelat lagi setelah mendapat nilai A.
  • Fixed Interval : jadwal yang memberikan penguatan bagi suatu respons hanya jika suatu periode waktu yang tetap telah terlewati, membuat tingkat keseluruhan respons relatif rendah. Misalnya gaji yang diberikan per minggu.
  • Variable Interval : jadwal di mana waktu antara penguat berbeda dan bergerak di antara beberapa rata-rata. Contohnya dosen memberikan kuis tidak tetap jadwal, kadang sekali dalam dua minggu atau sekali dalam sebulan.

     Generalisasi dalam pengkondisian operant berarti memberikan respons yang sama terhadap stimuli yang sama. Diskriminasi berarti pembedaan di antara stimuli dan kejadian lingkungan. Pelenyapan (extinction) terjadi ketika respons penguat sebelumnya tidak lagi diperkuat dan responsnya menurun.

2. Pendekatan Kognitif

        Pendekatan kognitif terdiri dari empat pendekatan utama untuk pembelajaran yaitu:

  • Pendekatan kognitif sosial : menekankan bagaimana faktor perilaku, lingkungan dan orang (kognitif) saling berinteraksi mempengaruhi proses pembelajaran. Tokoh dari teori ini adalah Albert Bandura yang menekankan pada self-efficacy yaitu keyakinan bahwa seseorang bisa menguasai situasi dan menghasilkan hasil positif.

  • Pemrosesan informasi kognitif : menitikberatkan pada bagaimana anak memproses informasi melalui perhatian, ingatan, pemikiran dan proses kognitif lainnya.

  • Konstruktivis kognitif : menekankan konstruksi kognitif terhadap pengetahuan dan pemahaman, diperkenalkan dalam teori Piaget.

  • Konstruktivis sosial : memfokuskan pada kolaborasi dengan orang lain untuk menghasilkan   pengetahuan dan pemahaman, diperkenalkan dalam bentuk teori Vygotsky.



Inteligensi adalah keahlian memecahkan masalah (problem-solving) dan kemampuan untuk beradaptasi dan belajar dari pengalaman hidup sehari-hari. Minat terhadap inteligensi sering kali difokuskan pada perbedaan dan penilaian individual. Perbedaan individual adalah cara di mana orang berbeda satu sama lain secara konsisten dan tetap.

Beberapa definisi Inteligensi :

·         Terman : Inteligensi adalah kemampuan seseorang untuk berpikir secara abstrak.

·        Thorndike : Inteligensi adalah kemampuan dalam memberikan respon yang baik dari pandangan kebenaran atau fakta.

·        Wechsler : Inteligensi sebagai totalitas kemampuan seseorang untuk bertindak dengan tujuan tertentu, berpikir secara rasional, serta menghadapi lingkungan dengan efektif.

·         Flynn : Inteligensi adalah kemampuan berpikir secara abstrak dan kesiapan untuk belajar dari pengalaman.

Inteligensi merupakan hal yang paling banyak diberi perhatian dan paling banyak dipakai untuk menarik kesimpulan tentang perbedaan kemampuan murid. Terdapat dua jenis tes dalam menentukan tingkat inteligensi seseorang, yaitu:


TES INTELIGENSI INDIVIDUAL

1. Tes Binet

     Alfred Binet dan mahasiswanya, Theophile Simon, menyusun tes inteligensi untuk memenuhi permintaan dari Menteri Pendidikan Perancis guna mengidentifikasi anak-anak yang tidak mampu belajar disekolah. Tes ini disebut Skala 1905 yang terdiri dari 30 pertanyaan, mulai kemampuan untuk menyentuh telinga hingga kemampuan untuk menggambar desain berdasarkan ingatan dan mendefinisikan konsep abstrak.

      Binet mengembangkan konsep mental age (MA) atau usia mental, yakni level perkembangan mental individu yang berkaitan dengan perkembangan lain. Pada tahun 1912, William Stern menciptakan konsep intelligence quotient (IQ), yaitu usia mental seseorang dibagi dengan usia kronologis (chronological age- CA), dikalikan 100 atau IQ = MA/ CA x 100. Jika usia mental sama dengan usia kronologis, maka IQ orang itu adalah 100. Dan jika usia mental di atas usia kronologis, maka IQ-nya lebih dari 100.      

     Tes Binet direvisi berkali-kali untuk disesuaikan dengan kemajuan dalam pemahaman inteligensi dan tes inteligensi. Revisi-revisi ini disebut tes Stanford-Binet. Skor pada tes Stanford-Binet mendekati distribusi normal dikarenakan banyaknya orang dari usia yang berbeda dan juga latar belakang yang beragam.

     Tes Stanford-Binet kini dilakukan secara individual untuk orang dari usia 2 tahun hingga dewasa. Tes ini memuat banyak item, beberapa di antaranya membutuhkan jawaban verbal dan yang lainnya respons nonverbal. Item yang merefleksikan level kinerja dewasa antara lain tes pendefinisian kata seperti disproporsional dan hormat, tes menjelaskan pepatah, dan membandingkan antara pengangguran dan kemalasan.

     Pada 1985, edisi keempat tes Stanford-Binet dipublikasikan. Salah satu penambahan penting pada versi ini adalah analisis respons individual dari segi empat fungsi, yaitu penalaran verbal, penalaran kuantitatif, penalaran visual abstrak, dan memori jangka pendek.

2. Skala Wechsler

     Tes ini dikembangkan oleh David Wechsler. Dalam tes ini mencakup Wechsler Preschool and Primary Scale of Intelligence-Revised (WPPSI-R) untuk menguji anak usia 4 sampai 6 ½ tahun; Wechsler Intelligence Scale for Children-Revised (WISC-R) untuk anak dan remaja dari usia 6 hingga 16 tahun; dan Wechsler Adult Intelligence Scale-Revised (WAIS-R). Skala Wechsler juga menunjukkan IQ verbal dan IQ kinerja. IQ verbal didasarkan pada enam subskala verbal, IQ kinerja didasarkan pada lima subskala kinerja.

TES KELOMPOK

     Tes inteligensi kelompok mencakup Lorge-Thorndike Intelligence Tests, Kuhlman-Anderson Intelligence Tests, dan Otis-Lennon School Mental Abilities Tests. Tes kelompok ini lebih nyaman dan ekonomis ketimbang tes individual, namun juga ada kekurangannya. Saat tes dilakukan pada satu kelompok besar, peneliti tak dapat menyusun laporan individual, menentukan tingkat kecemasan murid, dan sebagainya. Karena keterbatasan ini, maka saat akan dibuat keputusan penting menyangkut murid, tes inteligensi kelompok harus dilengkapi dengan informasi lain tentang kemampuan murid.

TEORI MULTIPLE INTELLIGENCES

1. Teori Triarkis Sternberg

     Menurut teori inteligensi triarkis dari Robert J. Sternberg, inteligensi muncul dalam tiga bentuk utama, yaitu:

  1. Inteligensi analitis : kemampuan untuk menganalisis, menilai, mengevaluasi, membandingkan, dan mempertentangkan.
  2. Inteligensi kreatif : kemampuan untuk mencipta, mendesain, menciptakan, menemukan, dan mengimajinasikan.
  3. Inteligensi praktis : kemampuan untuk menggunakan, mengaplikasikan, mengimplementasikan, dan mempraktikkan.

2. Delapan Kerangka Pikiran Gardner

     Howard Gardner percaya bahwa ada banyak tipe inteligensi spesifik atau kerangka pikiran. Ada delapan kerangka menurut Gardner yang dideskripsikan bersama dengan contoh pekerjaan yang merefleksikan kekuatan masing-masing kerangka:

  1. Keahlian verbal : kemampuan untuk berpikir dengan kata dan menggunakan bahasa untuk mengekspresikan makna (penulis, wartawan, pembicara).
  2. Keahlian matematika : kemampuan untuk menyelesaikan operasi matematika (ilmuwan, insinyur, akuntan).
  3. Keahlian spasial : kemampuan untuk berpikir tiga dimensi (arsitek, perupa, pelaut).
  4. Keahlian tubuh-kinestetik : kemampuan untuk memanipulasi objek dan cerdas dalam hal-hal fisik (ahli bedah, pengrajin, penari, atlet).
  5. Keahlian musik : sensitif terhadap nada, melodi, irama, dan suara (komposer, musisi, dan pendengar yang sensitif).
  6. Keahlian intrapersonal : kemampuan untuk memahami diri sendiri dan menata kehidupan dirinya secara efektif (teolog, psikolog).
  7. Keahlian interpersonal : kemampuan untuk memahami dan berinteraksi secara efektif dengan orang lain (guru teladan, profesional kesehatan mental).
  8. Keahlian naturalis : kemampuan untuk mengamati pola-pola di alam dan memahami sistem alam dan sistem buatan manusia (petani, ahli botani, ahli ekologi, ahli tanah).

3. Proyek Spektrum

     Proyek Spektrum adalah usaha inovatif yang dilakukan Gardner untuk menguji delapan inteligensi anak-anak. Proyek Spektrum diawali dengan ide dasar bahwa setiap murid punya potensi untuk mengembangkan kekuatan di satu atau dua area. Kelas Spektrum memiliki banyak materi yang dapat menstimulasi berbagai inteligensi. Secara keseluruhan, kelas Spektrum punya 12 area yang didesain untuk melatih dan meningkatkan multiple intelligences murid. Kelas Spektrum juga dapat mengungkapkan keahlian yang biasanya tidak tampak dalam kelas reguler.

4. Key School

     Key School merupakan sekolah dasar K-6 di Indianapolis yang menyediakan kepada murid aktivitas yang melibatkan berbagai keterampilan yang berkaitan dengan delapan kerangka pikiran dari Gardner. Setiap hari masing-masing anak diberi materi yang didesain untuk menstimuli seluruh kemampuan manusia. Materi itu antara lain seni, musik, bahasa, matematika, dan permainan fisik, dan diminta untuk memahami diri sendiri dan orang lain.

     Tujuan Key School adalah membuat murid menemukan sendiri minat dan bakat masing-masing, dan kemudian membiarkan mereka mengeksplorasinya. Gardner percaya bahwa jika guru memberi murid kesempatan untuk menggunakan tubuh, imajinasi, dan indra mereka, maka hampir semua murid akan tahu bahwa dirinya punya kelebihan dalam satu hal.

5. Emotional Intelligence

     Teori emotional intelligence merupakan kemampuan untuk memonitor perasaan diri sendiri dan perasaan serta emosi orang lain, kemampuan untuk membedakannya, dan kemampuan untuk menggunakan informasi ini untuk memandu pemikiran dan tindakan dirinya. Teori ini didefinisikan oleh Peter Salovy dan John Mayer. Menurut Goleman, emotional intelligence terdiri dari empat area:

  1. Developing emotional awareness : kemampuan untuk memisahkan perasaan dari tindakan.
  2. Managing emotions : kemampuan untuk mengendalikan amarah.
  3. Reading emotions : kemampuan untuk memahami perspektif orang lain.
  4. Handling relationships : kemampuan untuk memecahkan problem hubungan.  



 Motivasi adalah proses yang memberi semangat, arah, dan kegigihan perilaku. Artinya, perilaku yang termotivasi adalah perilaku yang penuh energi, terarah dan bertahan lama. Dalam pengajaran, motivasi merupakan aspek yang sangat penting dan komponen utama dari prinsip psikologi learned center. Dalam pendidikan, motivasi murid di kelas berkaitan dengan alasan di balik perilaku murid dan sejauh mana perilaku mereka diberi semangat, punya arah dan dipertahankan dalam jangka lama. Misalnya, jika murid tidak menyelesaikan tugas karena bosan, maka dia kekurangan motivasi. Jika murid menghadapi tantangan dalam penelitian dan penulisan makalah, tetapi dia terus berjuang dan mengatasi rintangan, maka dia punya motivasi besar.



PERSPEKTIF TENTANG MOTIVASI

      Perspektif psikologis menjelaskan motivasi dengan cara yang berbeda berdasarkan perspektif yang berbeda. Terdapat empat perspektif psikologis yang menjelaskan tentang motivasi. Ke empat perspektif itu adalah Perspektif Behavioral, Perspektif Humanistis, Perspektif Kognitif, dan Perspektif Sosial.

1. Perspektif Behavioral

   Perspektif behavioral menekankan imbalan dan hukuman eksternal sebagai kunci dalam menentukan motivasi murid. Kejadian atau stimuli positif atau negatif yang dapat memotivasi perilaku murid disebut dengan insentif. Insentif dapat menambah minat atau kesenangan pada pelajaran, dan mengarahkan perhatian pada perilaku yang tepat dan menjauhkan mereka dari perilaku yang tidak tepat. Insentif yang dipakai guru di kelas antara lain nilai yang baik, yang memberikan indikasi tentang kualitas pekerjaan murid dan tanda bintang atau pujian jika mereka menyelesaikan suatu tugas dengan baik.

2. Perspektif Humanistis

     Perspektif humanistis menekankan pada kapasitas murid untuk mengembangkan kepribadian, kebebasan untuk memilih nasib mereka, dan kualitas positif (seperti peka terhadap orang lain). Perspektif ini berkaitan erat dengan pandangan Abraham Maslow bahwa kebutuhan dasar tertentu harus dipuaskan dahulu sebelum memuaskan kebutuhan yang lebih tinggi.

  • Fisiologis : lapar, haus, tidur.
  • Keamanan (safety) : bertahan hidup, seperti perlindungan dari perang dan kejahatan.
  • Cinta dan rasa memiliki : keamanan (security), kasih sayang, dan perhatian dari orang lain.
  • Harga diri : menghargai diri sendiri.
  • Aktualisasi diri : realisasi potensi diri.



3. Perspektif Kognitif

     Menurut perspektif kognitif, pemikiran murid akan memandu motivasi mereka.  Minat motivasi berfokus pada ide-ide seperti motivasi internal untuk mencapai sesuatu, atribusi, dan keyakinan mereka bahwa mereka dapat mengontrol lingkungan mereka secara efektif. Perspektif ini juga menekankan arti penting dari penentuan tujuan, perencanaan dan monitoring kemajuan menuju suatu tujuan. R.W. White mengusulkan konsep motivasi kompetensi, yaitu ide bahwa orang termotivasi untuk menghadapi lingkungan mereka secara efektif, menguasai dunia mereka, dan memproses informasi secara efisien.

4.Perspektif Sosial

     Kebutuhan afiliasi atau keterhubungan adalah motif untuk berhubungan dengan orang lain secara aman. Ini membutuhkan pembentukan, pemeliharaan dan pemulihan hubungan personal yang hangat dan akrab. Kebutuhan afiliasi murid tercermin dalam motivasi mereka untuk menghabiskan waktu bersama teman, kawan dekat, keterikatan mereka dengan orang tua, dan keinginan untuk menjalin hubungan positif dengan guru. Salah satu faktor dalam motivasi dan prestasi murid adalah persepsi mereka mengenai apakah hubungan mereka dengan guru bersifat positif atau tidak.

MOTIVASI UNTUK MERAIH SESUATU

     Motivasi Ekstrinstik adalah melakukan sesuatu untuk mendapatkan sesuatu yang lain (cara untuk mencapai tujuan). Motivasi ekstrinstik sering dipengaruhi oleh insentif eksternal seperti imbalan dan hukuman. Contohnya, murid belajar dengan keras menghadapi ujian untuk mendapatkan nilai yang baik. Pendekatan behavioral menekankan arti penting dari motivasi ekstrinstik dalam prestasi ini.

   Motivasi Intrinstik adalah motivasi internal untuk melakukan sesuatu demi sesuatu itu sendiri (tujuan itu sendiri). Misalnya, saat akan menghadapi ujian, murid mungkin akan belajar karena dia senang dengan mata pelajaran yang diujikan tersebut. Pendekatan kognitif dan humanistik menekankan motivasi intrinstik sebagai arti penting dalam prestasi.

  Determinasi Diri dan Pilihan Personal merupakan salah satu pandangan mengenai motivasi intrinsik. Dalam pandangan ini, murid ingin percaya bahwa mereka melakukan sesuatu karena kemauan sendiri, bukan karena kesuksesan atau imbalan eksternal. Motivasi internal dan minat intrinsik dalam tugas sekolah naik apabila murid punya pilihan dan peluang untuk mengambil tanggung jawab personal atas pembelajaran mereka.

   Mihaly Csikszentmihalyi menggunakan istilah flow untuk mendeskripsikan pengalaman optimal dalam hidup. Dia menemukan bahwa pengalaman optimal itu kebanyakan terjadi ketika orang merasa mampu menguasai dan berkonsentrasi penuh saat melakukan aktivitas. Dan dia mengatakan bahwa pengalaman optimal terjadi ketika individu terlibat dalam tantangan yang mereka anggap tidak terlalu sulit tetapi juga tidak terlalu mudah.